Sudah menjadi hal biasa pada setiap musim penghujan, kita selalu menyaksikan genangan air dimana-mana, di jalan raya, di kampung kita, dihalaman rumah kita dan juga di halaman sekolah kita, dan menjadi hal biasa pula setiap musim kemarau kita mengalami kekeringan yang luar biasa.
Sebanyak tiga kabupaten di DIY,
yakni Gunungkidul, Bantul dan Kulonprogo mengalami darurat kekeringan. Sehingga
Pemerintah DIY telah meminta bantuan ke Pemerintah Pusat untuk mengatasi dampak
kemarau.
Padatnya jumlah penduduk di
perkotaan juga menjadikan problem kita bersama, daerah resapan semakin
berkurang, tempat bermain dan bersosialisai bagi warga kita juga semakin berkurang,
serta banyak sampah yang tidak terkendali, sehingga hal tersebut perlu menjadi perhatian
kita bersama untuk selalu menjaga lingkungan hidup disekitar kita, agar kita
dapat hidup lebih sehat dengan lingkungan yang bersih dan terjaganya kualitas
air tanah kita.
Banyak cara untuk melestarikan
lingkungan hidup ini, salah satunya melalui pendidikan yaitu dengan menerapkan
mata pelajaran lingkungan hidup di sekolah. Pendidikan lingkungan hidup
mengajarkan, dimana siswa diajarkan untuk lebih mengenal lingkungan sekitar dan
bisa memanfaatkan lingkungannya dengan baik, yaitu dengan membuat sampah
plastic bekas makanan menjadi barang berguna, mengubah sampah organik menjadi
kompos serta dengan membuat resapan air hujan (biopori) di lingkungan sekolah.
Lubang resapan biopori adalah lubang
silindris yang dibuat ke dalam tanah dengan diameter 10 cm, kedalaman sekitar
100 cm atau jangan melebihi kedalaman muka air tanah. Lubang diisi sampah
organik untuk mendorong terbentuknya biopori. Biopori adalah pori berbentuk
liang (terowongan kecil) yang dibentuk oleh aktivitas fauna tanah atau akar
tanaman. Ada pun fungsi dan manfaat dari lubang resapan biopori tersebut menurut
Kamir. R brata :
- Mencegah banjir
- Mengubah sampah organic menjadi kompos
- Mempermudah penanganan sampah dan menjaga kebersihan lingkungan
- Menambah cadangan air tanah
- Memperbaiki ekosistem tanah
Kita sering melihat halaman sekolah
diperkeras dengan paving atau beton, sehingga apabila turun hujan, terjadi genangan
air disekitar lingkungan sekolah ataupun air hanya dibuang kesaluran air (drainase)
sehingga tidak terserap kembali dengan sempurna ke dalam tanah.
Sehingga dengan hadirnya
lubang-lubang resapan biopori di lingkungan sekolah, sebagai salah satu cara menanamkan
nilai pendidikan lingkungan hidup bagi siswa di sekolah serta menjaga kualitas
air tanah di lingkungan sekolah. Mari kita bersama-sama menjaga kualitas hidup
kita.
Ali
Anton Senoaji, ST
Staf
mengajar Program Teknik Bangunan
SMK
N 3 Yogyakarta
Tidak ada komentar:
Posting Komentar